thumbnail

On 04.20 with No comments

Image result for gambar setnov sidang

Jakarta, Aktual.com – Persidangan perkara dugaan korupsi E-KTP yang menyeret Setya Novanto (Setnov) ditunda untuk sementara waktu.
Penundaan merupakan buntut kondisi kesehatan Setnov yang diragukan menjalani sidang perkara dugaan korupsi E-KTP, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Rabu (13/12/2017).
Dalam persidangan, Setnov mengklaim sakit diare. Sakit itu didapatnya, beberapa hari jelang sidang Rabu ini.
“4-5 hari ini saya sakit diare, enggak dikasih obat sama dokter,” ungkap Setnov dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Rabu (13/12/2017).
Di lain pihak, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari KPK, Irene Putri membantah klaim Setnov. Kepada majelis hakim, Irene menyatakan bahwa Setnov juga mengaku kepadanya telah bolak balik ke kamar mandi sebanyak 20 kali akibat diare, pada Selasa (12/12) kemarin.
“Tadi keluhan disampaikan dia yang bersangkutan diare 20 kali,” terang Irene dalam persidangan.
(Andy Abdul Hamid)
thumbnail

On 15.18 with No comments



Calon gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan dua Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengaku bersyukur sudah terjun ke dunia politik sejak masih di Belitung Timur. Di daerah kelahirannya itulah Ahok menyebut dirinya mulai terbiasa diserang dengan isu-isu berbau suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Ia bercerita bahwa pernah ada salah seorang ustaz di Belitung Timur yang pernah membelanya selama ia menjabat sebagai Bupati Belitung Timur pada 2006.
Saat itu, kata Ahok, ustaz tersebut dikritik oleh warga kenapa membela Ahok yang berstatus nonmuslim, sedangkan mayoritas penduduk muslim beragama Islam.
"Dia (ustaznya) bilang, muslim akan maju kalau dipimpin oleh orang yang walaupun belum dapat hidayah tapi memenuhi syarat," kata Ahok.
Ia menyampaikannya saat menghadiri acara "Pembekalan Penggerak Militan Wanita Ka'bah yang diadakan DPP PPP Kubu Djan Faridz, di Jalan Talang, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (29/1/2017).
Sebelumnya, saat acara yang sama, seorang mubaligh sempat menyampaikan empat sifat Nabi Muhammad, yakni shiddiq (benar), amanah (bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathonah (cerdas).
Ahok menyebut ustaz yang mendukungnya itu juga punya harapan agar dirinya bisa masuk Islam. Hal itulah yang disebut Ahok disampaikan ustaz tersebut kepada warga yang mengkritiknya.
"Kita perlu doakan supaya Ahok dapat hidayah. Makanya kalau ada acara-acara (keagamaan) Ahok diundang. Jangan dimusuhin," ujar Ahok, menirukan ucapan ustaz itu.
Dalam acara yang diadakan DPP PPP, Ahok juga sempat menceritakan saran seorang koleganya yang menyarankannya untuk masuk Islam jelang Pilkada DKI 2017.
Ia menyebut orang yang menyarankannya itu menganggap dengan masuk Islam, maka akan semakin mudah bagi Ahok untuk memenangi Pilkada. Namun, Ahok mengaku menolak saran tersebut. Karena ia menilai sama saja dengan menggunakan agama untuk kepentingan politik.
"Pura-pura mualaf demi jadi gubernur, ngeri saya. Mending apa adanya. Kan kekuasaan Tuhan yang ngasih," kata Ahok disambut tepuk tangan peserta acara. (kompas.com)
Kompas TVDoa Anak Penderita Leukemia bagi Ahok

thumbnail

On 15.14 with No comments

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto menghadiri acara kampanye pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan, Pilkada DKI Jakarta adalah momentum perubahan di Jakarta dan juga Indonesia.





Dia bilang, selama ini rakyat sudah capek dengan korupsi. Capek dengan kelicikan yang dibuat-buat oleh pemimpin selama ini, dan capai karena terus dibodoh-bodohi dengan membeli suara.


"Kita enggak mau lagi dibodoh-bodohi, diakal-akalin. Maka kita rebut Jakarta untuk selamatkan Indonesia," terang Prabowo di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Pusat, Minggu (29/1/2017).


Prabowo yakin momentum kemenangan sudah ada untuk Anies-Sandi. Hal tersebut dirasakannya dari semangat dan antusiasme masyarakat yang ikut dalam acara pada hari ini.

Belum lagi dari laporan-laporan serta evaluasi yang terus dilakukan yang berbuah pada perbaikan. Sehingga Prabowo optimis pasangan nomor urut tiga ini bisa menang dalam Pilkada DKI 2017.

Seluruh lapisan masyarakat pendukung Anies-Sandi diminta untuk mengajak lebih banyak lagi partisipan demi merebut momentum ini.


    "Saya dapat laporan dari tim saya melaporkan tadi malam relawan Anies-Sandi jumlahnya sudah 100 ribu orang. Artinya dalam 100 hari yang akan datang kita harus cari tambah tiga orang dalam satu hari, masa enggak bisa?. Kami bisa ajak kakakmu, iparmu, sepupumu, nenekmu, tetanggamu," jelas dia.

    http://pilkada.metrotvnews.com/news-pilkada/DkqjOwRK-prabowo-kita-akan-rebut-jakarta-untuk-selamatkan-indonesia
    thumbnail

    On 15.13 with No comments

    Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajak warga untuk sama-sama menyelamatkan Jakarta dari kepemimpinan Pemprov DKI saat ini.


    Apalagi, kata Anies, saat ini nilai rapor kinerja Pemprov DKI Jakarta merah.
    "Kalau rapornya merah diluluskan apa enggak? Enggak usah ikut lagi. Tapi kalau maksa mau ikut, ya terpaksa kita hentikan," kata Anies saat bertemu dengan alumni Universitas Indonesia di Inn Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (28/1/2017).
    Anies mengatakan dia dan cawagub, Sandiaga Uno, tak ingin menantang pasangan calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Saiful Hidayat. Dia hanya ingin menghentikan petahana.


      "Dengan rapor merah itu kita ganti saja. Jadi beliau (petahana) kita siapkan untuk kembali ke kampung halaman, dan Jakarta dibebaskan dari kotak-kotak," ujar Anies.
      Sementara itu, Anies mengatakan, materi debat kedua pada Jumat (27/1/2017) kemarin merupakan hasil diskusi dengan banyak pihak. Data dan kutipan itu merupakan copy-paste dari beberapa pihak yang ikut berdiskusi.
      "Nanti tanggal 15 (Februari 2017) bergerak semua dengan peran masing-masing agar Jakarta bisa berubah dan petahana dicukupkan tugas sampai di sini," kata Anies. (funiseia.net)
      http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/28/20122291/anies.kita.siapkan.petahana.pulang.kampung
      thumbnail

      On 03.25 with No comments


      JAKARTA – Front Pembela Islam (FPI) menyerukan jihad untuk mendesak Kapolri Jenderal Tito Karnavian segera mencopot Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Anton Charliyan.
      FPI se Jabodetabek akan melakukan aksi unjuk rasa menuntut pencopotan Irjen Pol Anton Charliyan di Markas Besar Polri, Senin (16/1/2017). Unjuk rasa yang akan dipimpin langsung oleh Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab tersebut dikenal dengan aksi 161.
      “Senin, 16 Januari 2017 kumpul di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Shalat Dhuha jam 8 pagi. Long march ke Mabes Polri jam 9 pagi,” demikian seruan FPI lewat Instagram DPP FPI.
      Tuntutan aksi 161 ada dua. Pertama, menuntut dan meminta kepada Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian agar segera mencopot Kapolda Jabar Irjen Pol Anton Charliyan, yang telah melakukan pembiaran dan mengakibatkan terjadinya insiden penyerangan dan penganiayaan terhadap massa ormas Islam FPI oleh massa ormas LSM GMBI.
      Kedua, menuntut kepada Mabes Polri agar mencari dan menangkap aktor intelektual dan pelaku lapangan terhadap penyerangan dan penganiayaan massa Ormas Islam FPI oleh Massa ormas LSM GMBI.
      Sebelumnya, FPI Provinsi Aceh mengecam cara polisi memperkarakan Imam Besar FPI Habib Rizieq.
      “Kami keberatan dengan cara polisi menyikapi laporan dugaan pelecehan terhadap dasar negara (Pancasila) yang dituduhkan kepada Habib Rizieq” ujar Ketua FPI Aceh, Muslim At-Thahiry, Sabtu (14/1).
      Menurut Muslim, Polri terkesan tebang pilih dalam menangani perkara hukum antara kasus Ahok dan Habib Rizieq. Muslim menegaskan FPI Aceh siap melakukan jihad jika Habib Rizieq dipenjara.
      “FPI Aceh siap menyerukan jihad jika sampai Habib dipenjara. Dan jika mau lakukan itu, maka langkahi dulu mayat kami,” tegas Muslim.
      (one/pojoksatu)
      BACA SUMBER
      thumbnail

      On 19.04 with No comments

      Ilustrasi
      Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab kembali mencurahkan isi hatinya dalam situs resmi www.habibrizieq.co yang dikutip netralnews.com, Sabtu (14/1/2017).
      Ungkapan Habib Rizieq kepada Megawati Soekarnoputri terkait pidatonya pada HUT ke-44 PDI Perjuangan pada 10 Januari 2017 lalu di Jakarta Convention Central yang antara lain menyitir retorika historis Bung Karno.
      Dalam situs tersebut Rizieq Syihab memberikan nasihat kepada Megawati yang menurutnya anti Arab. Dalam tulisan di situs yang berjudul "Nasihat Untuk Ibu Megawati Soekarno Putri"
      Ada tiga nasihat untuk Megawati, yang ditulis Rizieq Syihab dalam situsnya tersebut. Berikut isi nasihat tersebut:
      Pertama: Kalau mau jadi orang Islam jangan benci Arab. Karena Rasulullah SAW adalah orang Arab, dan Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, serta setiap hari orang Islam sholat dengan bahasa Arab.
      Bahkan ada ribuan kata dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab. Dan yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia adalah negara Arab Mesir. Serta alhamdulillah, Bung Karno pun pecinta Arab.
      "Sejak kapan Ibu Megawati membangun nasionalisme Indonesia atas dasar rasis dan fasis terhadap Arab..??," kata Rizieq dalam situsnya.
      Kedua: Bicara tentang akherat bukan meramal masa depan. Tapi menyampaikan berita Ilahi yang pasti benar. Walau belum pernah melihat akherat, tapi yakin akan kepastiannya.
      "Sebab Allah SWT yang menginformasikannya. Apakah Ibu Megawati sudah tidak percaya berita dari Allah SWT..?? Apakah ibu Megawati sudah tidak beriman pada hari akhir..???," ujarnya dalam situs yang sama.
      Ketiga: Apa yang disampaikan atas dasar ajaran agama Islam tidak bertentangan dengan Pancasila. Karena Pancasila berdiri atas dasar tauhid Ketuhanan Yang Maha Esa.
      Jadi, Ibu Megawati jangan menghadap-hadapkan agama Islam dengan Pancasila. Karena itu berarti penodaan terhadap Agama dan Pancasila.
      "Tapi saya yakin, Ibu Megawati hanya baca teks pidato yang disusun oleh kelompok rasis dan fasis anti Islam. Untuk adu domba Ibu Megawati dengan umat Islam," tuturnya.
      Ia pun meminta Karenanya umat Islam jangan terprovokasi !!!
      Sebelumnya dalam HUT PDI-P, pidato Ketua Umum Megawati Soekarnoputri sempat menyindiri FPI. Megawati menyampaikan tentang nilai-nilai Pancasila. Megawati mengkritik keras organisasi-organisasi yang anti Pancasila. Bahkan Megawati juga menyampaikan pesan Ir. Soekarno yang sangat menohok.
      "Jika hendak menjadi orang Hindu, jangan menjadi orang India. Jika hendak menjadi orang Islam, jangan menjadi orang Arab. Jika hendak menjadi orang kristen, jangan menjadi orang Yahudi. Jadilah orang Indonesia.....!"
      Dalam pertengahan pidato, Megawati sempat menyindir pihak-pihak yang berupaya melengserkan Jokowi.
      "PDI Perjuangan selalu berdiri kokoh menjaga kelangsungan pemerintahan Jokowi-JK sebagai pemerintahan yang terpilih secara langsung. Jadi Kalau ada yang macam - macam, pak Presiden, pak Wapres panggil saja kita,"
      Sontak saja, semua yang hadir menjadi riuh bertepuk tangan. Terlihat Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla merespon dengan langsung berdiri dan memberi hormat.
      Megawati juga berkomentar terkait pengeroyokan kader ranting, bernama Widodo, oleh ormas LPI, yang merupakan organisasi sayap FPI.
      "Kalau ada yang mau macem-macem. Anak buah saya juga ada loh. Dan anak buah saya sudah ada yang digaplok. Nanti kalau sudah sembuh akan saya berikan hadiah," tegas Megawati, disambut tepuk tangan gemuruh para kader PDIP.
      "Anak-anak saya nakal-nakal, pak. Tapi kalau untuk bangsa dan negara. Jiwa rela mereka berikan," lanjut Megawati.
      BACA SUMBER
      thumbnail

      On 17.56 with No comments


      Massa pendukung dan penolak Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok berorasi di depan gedung Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa, 20 Desember 2016. Insiden sempat terjadi ketika seorang wanita dan pria merebut salah satu poster yang dibawa pendukung Ahok. 
      Dua orang tersebut merasa tak terima karena ada spanduk bertuliskan "Kami Muslim Mendukung Ahok".
      "Itu di kubu situ ada poster muslim dukung Ahok, itu kan enggak benar, Islam yang beda itu mereka," ujar wanita bernama Diah tersebut sesaat setelah dievakuasi kembali ke barisan kubu penolak Ahok.
      Seorang lainnya, Kasman, membenarkan perkataan ibu tersebut. Ia merasa mustahil dan tak seharusnya ada poster tersebut di kubu pendukung Ahok. Ia menemani Diah untuk mengambil poster tersebut. Namun, keduanya segera dievakuasi petugas.
      "Masa ada poster muslim dukung Ahok, itu enggak mungkin, mana ada muslim yang dukung Ahok, enggak bener makanya saya temani ibu itu buat ambil posternya, enggak mungkin kan dia sendirian ambil," ujarnya.
      Saat ini, keduanya telah kembali ke barisan kubunya. Situasi pun kembali kondusif di depan Pengadilan Negeri Jakarta Utara.
      (mus)
      BACA SUMBER
      thumbnail

      On 20.56 with No comments


      Tersangka ujaran kebencian SARA, Buni Yani masih bersikukuh untuk memperjuangkan pembatalan status tersangka yang kini disandangnya.

      Atas dasar itu, Buni beserta tim kuasa hukumnya mengajukan sidang praperadilan dengan menghadirkan beberapa saksi ahli dan saksi fakta.

      Beberapa di antaranya adalah Ahli Hukum Doktor Alfitra. Alih-alih mendapat kepuasan, ahli yang dihadirkan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta tersebut justru kerap kali memberi pernyataan yang senada dengan termohon, Polda Metro Jaya.

      Salah satu yang diamini saksi ahli adalah Perkap nomor 12 tahun 2009 tentang manajemen penyidikan yang dikeluhkan Buni Yani.

      Hal tersebut tercermin saat Kombes Agus Rohmat sebagai salah satu termohon menanyakan tentang peraturan yang menjadi dasar penangkapan tersangka Buni Yani.

      “Berdasarkan Pasal 101 Perka Polri nomor 14 tahun 2012, perkap nomor 12 tahun 2009 sudah dicabut. Menurut ahli, Perkap ini apakah masih bisa digunakan?” tanya Agus di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (15/12).

      Menjawab pertanyaan dari termohon, Alfitra memaparkan bahwa yang menjadi acuan tindakan adalah melalui peraturan terbaru, bukan yang lama.

      “Jika Perkap sebelumnya telah dihapus, maka mengacu pada pertap yang baru,” jawab Alfitra.

      Tak sekadar itu, saat termohon mempertanyakan ketetapan gelar perkara dalam prosedur penetapan tersangka terhadap Buni Yani, jawaban ahli pun sejalur dengan termohon.

      “Dalam ilmu hukum yang saya pelajari, tidak semua perkara hukum dilakukan gelar perkara. Jadi gelar perkara tidak menjadi suatu keharusan,” ujar Alfitra.

      Mendengar sejumlah penjelasan dari ahli hukum yang sependapat, beberapa pemohon dari Polda Metro Jaya terlihat sedikit tersenyum.

      Seperti diketahui, praperadilan yang diajukan Buni Yani tak lain karena sejumlah prosedur penangkapan yang dianggap menyalahi aturan. Dari mulai surat pemanggilan yang dianggap tidak beralasan, hingga anggapan tidak adanya gelar perkara dalam penetapan tersangka terhadapnya. [lensaberita.net]
      thumbnail

      On 14.39 with No comments


      JAKARTA - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana (Lulung) sangat yakin majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara bakal menolak eksepsi yang diajukan Gubernur nonaktif Basuki T Purnama (Ahok). 

      Dia bahkan sesumbar bakal mengiris kupingnya sendiri jika prediksi tersebut meleset.
      "Saya iris kuping kalau hakim terima eksepsi Ahok," kata Lulung saat dihubungi rmoljakarta, Selasa (13/12).

      Lulung menyakini majelis hakim yang dipimpin Dwiardo tidak terpengaruh dengan air mata Ahok yang tumpah di pengadilan.

      "Hakim tahu air mata Ahok itu cuma trik meraih simpati, bukan air mata penyesalan yang tulus," kata Lulung.

      Dikatakan Lulung, seharusnya Ahok menyampaikan permohonan maaf saja sambil berjanji tidak mengulanginya lagi. 

      Bukan malah menjelaskan bahwa dia tidak mungkin menista agama Islam.

      "Ahok bilang mana mungkin menistakan agama lalu orang tua, orang tua angkatnya, sampai Gus Dur dibawa, itu kan bukan masalah orang tua. Saya juga dididik sama orang tua saya dengan bagus. Tapi ini bagaimana mulutmu kan harimaumu," tegas Lulung. (jpnn.com)

      thumbnail

      On 14.38 with No comments


      JAKARTA - Ketua Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam tidak puas melihat jalannya sidang kasus penistaan agama Basuki T Purnama alias Ahok. 
      Meski baru sidang perdana, dia sudah mencap proses hukum tersebut sebagai dagelan.
      Usamah kesal lantaran yang jadi fokus adalah niat Ahok dan bukan pernyataanya soal surah Almaidah yang menghina agama Islam.

      "Mereka diberikan kesempatan untuk memberikan pembelaan, pujian, kepada Ahok. Terlihat jelas bahwa ini yang diadili dilihat niatannya. Padahal yang namanya pengadilan itu berbicara fakta hukum," kata Usamah di Gedung PN Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada,  Jakarta Pusat, Selasa (13/12).

      Menurutnya, niatan seseorang itu tidak bisa menjadi fakta hukum di pengadilan. Karena ada atau tidaknya niat seharusnya tidak relevan.

      "Niat itu kan gak ada yang tahu, hanya Allah yang tahu hati manusia. Tapi kalau fakta hukumnya jelas, ada bukti, yakni rekaman video di Kepulauan Seribu itu," tuturnya.

      Oleh karenanya, pihaknya akan terus mengawal sidang kasus penistaan agama tersebut sampai Ahok dijebloskan ke penjara. 

      Bahkan dia memastikan akan meningkatkan jumlah massa di sidang selanjutnya.
      "Ke depan kita akan tingkatkan untuk mengawal peradilan ini," ucapnya.

      Untuk itu, pihaknya akan kerjasama dengan kepolisian untuk pengaturan arus lalu lintas.
      Sehingga proses peradilan benar-benar mencerminkan rasa keadilan umat Islam.

      "Umat Islam memang perlu mengawal. Jadi tidak boleh dibiarkan aksi damai 1,2,3 kemarin itu misinya bagaimana Ahok dipenjarakan, dihukum seberat-beratnya," pungkasnya. (jpnn.com)

      thumbnail

      On 02.56 with No comments


      Jakarta - Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sempat menangis saat membacakan nota keberatan di sidang perdana kasus penistaan agama. Usai sidang, raut sedih masih terlihat di wajah Ahok ketika dipeluk kakak angkatnya. 

      Dari foto yang diperoleh detikcom, Selasa (13/12/2016), Ahok tampak terduduk di salah satu ruangan di gedung lama PN Jakpus, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Wajahnya tampak sedih. 

      Di belakang Ahok, ada sang kakak angkat yang bernama Nana Riwayatie. Perempuan berjilbab itu memeluk Ahok dari belakang. 

      Pelukannya erat dan Ahok pun memegang tangan sang kakak angkat. Di ruangan tersebut, ada juga polisi yang mendampingi. 

      "Keluarganya kuatkan beliau (Ahok) bahwa keluarganya tidak akan membiarkan Ahok sendiri," kata salah satu pengacara Ahok, Ronny Talapessy. 

      Saat membacakan nota keberatan, suara Ahok memang sempat bergetar dan menangis. Terutama ketika menceritakan riwayat hidupnya. Dia lahir dari pasangan keluarga nonmuslim di Belitung Timur Indra Tjahaja Purnama (almarhum) dan Buniarti Ningsing. Dia kemudian diambil menjadi anak angkat keluarga muslim asal Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan, Haji Baso Amir.

      "Haji Baso Amir, kata Ahok, adalah adik kandung mantan Panglima Angkatan Bersenjata Indonesia Jenderal (Purn) M Jusuf. "Ayah kandung dan ayah angkat saya bersumpah untuk bersaudara sampai akhir hayat," kata Ahok saat membacakan pidato keberatan di bekas gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (13/12/2016).

      Suara Ahok tertahan ketika menceritakan kisahnya merawat sang ibu angkat saat sakit hingga ke pemakaman. "Saya seperti anak tak tahu berterima kasih apabila saya tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua angkat saya, dan beliau adalah pemeluk Islam yang sangat taat," kata Ahok, kali ini suaranya bergetar. 

      (detik.com)

      thumbnail

      On 02.53 with No comments


      Jakarta - Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mendapat dukungan dari keluarga saat menjalani sidang perdana dugaan penistaan agama. Sang kakak angkat, Nana Riwayatie meminta Ahok tetap sabar dan tenang.

      "Kak Nana bilang 'Sabar dan tetap tenang. Semua sudah diatur Tuhan'," kata pengacara Ahok, Ronny Talapessy menirukan ucapan Nana usai sidang di gedung lama PN Jakpus, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (13/12/2016). 

      Nana menemui Ahok di salah satu ruangan di PN Jakpus usai sidang selesai. Dari belakang, Nana memeluk Ahok yang berwajah sedih.

      "Ingat pesan orang tua kita untuk tetap jujur dan amanah dalam memimpin," ucap Ronny mengulang perkataan Nana. 

      Ahok memang sempat membahas soal keluarga angkatnya ketika membacakan nota keberatan di sidang. Dia lahir dari pasangan keluarga nonmuslim di Belitung Timur Indra Tjahaja Purnama (almarhum) dan Buniarti Ningsing. Dia kemudian diambil menjadi anak angkat keluarga muslim asal Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan, Haji Baso Amir.

      "Haji Baso Amir, kata Ahok, adalah adik kandung mantan Panglima Angkatan Bersenjata Indonesia Jenderal (Purn) M Jusuf. "Ayah kandung dan ayah angkat saya bersumpah untuk bersaudara sampai akhir hayat," kata Ahok.

      Suara Ahok tertahan ketika menceritakan kisahnya merawat sang ibu angkat saat sakit hingga ke pemakaman. "Saya seperti anak tak tahu berterima kasih apabila saya tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua angkat saya, dan beliau adalah pemeluk Islam yang sangat taat," kata Ahok, kali ini suaranya bergetar. 




      (detik.com)

      thumbnail

      On 20.23 with No comments


      JAKARTA - Terdakwa kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama menangis saat membacakan nota keberatan (eksepsi) atas dakwaan jaksa penuntut umum.
      Dia tak kuasa menahan tangis saat bercerita tentang kedekatannya dengan keluarga angkatnya yang muslim.
      Dalam nota keberatannya, Ahok (panggilan Basuki) mengatakan, dalam kehidupan pribadinya, dia banyak berinteraksi dengan teman-temannya  yang beragama Islam.
      Selain itu, kata Ahok, dia juga memiliki keluarga angkat, almarhum Baso Amir, yang merupakan keluarga muslim yang taat.
      Selain itu, dia juga mengatakan belajar dari guru-gurunya yang beragama Islam dari kelas 1 SD sampai 3 SMP.
      "Saya tahu harus menghormati ayat suci Alquran," kata Ahok di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jalan Gajahmada, Jakarta, Selasa (13/12/2016).
      "Saya tidak habis pikir kenapa saya dituduh sebagai penista agama Islam? Keluarga dari keluarga nonmuslim. Saya diangkat sebagai anak sebagai bapak Baso Amir dan Haji Misribu."
      "Ayah angkat saya mantan Bupati Bone pada tahun 1967-1970, beliau adik kandung mantan Panglima RI almarhum Jendral Purn Muhammad Yusuf," kata Ahok lagi.
      "Ayah saya dan ayah angkat saya bersumpah menjadi saudara, sampai akhir hayatnya. Kecintaan dua orangtua angkat saya kepada saya sangat berbekas," ucapnya lagi.
      Ahok kemudian terdiam. Suaranya agak berat. Ahok terlihat mengusap air matanya dengan tisu.
      "S2 saya di Prasetia Mulya dibayarkan oleh kakak angkat saya, Haji Ananta Amir. Saya seperti orang yang tidak tahu terima kasih, tidak menghargai keluarga angkat saya," kata Ahok dengan suara yang serak.
      Hingga akhir pembacaan eksepsi, Ahok terlihat beberapa kali mengusap air matanya dan bicara dengan suara bergetar.
      Alasan Ahok Kutip Surat Al Maidah
      Tersangka kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ungkap alasannya menyitir Surat Al Maidah ayat 51 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, 27 September lalu.
      Ahok membacakan nota keberatan atas dakwaan dugaan penistaan agama.
      Ahok mengaku ucapannya, yang menyitir Surat Al Maidah ayat 51 tidak ditujukan untuk menista dan menghina agama Islam
      "Jelas, yang saya utarakan di Kepulauan Seribu, bukan dimaksudkan untuk menafsirkan surat Al Maidah," ujar Ahok di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jalan Gadjah Mada, Jakarta Pusat, Selasa, 13 Desember 2016.
      Ahok sedang menyampaikan eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan yang baru dibacakan majelis hakim. 
      Ahok, yang merupakan salah satu calon Gubernur DKI di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI 2017 mengatakan, perkataan ditujukan untuk para politisi yang menurutnya sering memanfaatkan ayat untuk tujuan politik.
      Ahok berkaca saat mencalonkan diri saat Pilkada Bangka Belitung 2007.
      Saat itu, beredar selebaran yang mengutip ayat itu supaya warga Babel tidak memilihnya sebagai Gubernur Babel.
      Ahok adalah calon kepala daerah yang beragama Kristen Protestan. Sementara warga Babel mayoritas Muslim.
      Ahok berpandangan, saat itu ada lawan politik yang tidak bisa bersaing secara sehat.
      Mereka, kemudian menggunakan isu terkait Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA), salah satunya menyebarkan Surat Al Maidah ayat 51 upaya warga tidak memilihnya.
      "Ucapan itu untuk para politisi yang memanfaatkan surat Al Maidah secara tidak benar," ujar Ahok. (tribunnews.com)

      thumbnail

      On 20.09 with No comments


      Jakarta – Tim Jaksa Penuntut Umum mulai membacakan dakwaan terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Dalam dakwaan ini jaksa menyebut Ahok sudah secara sengaja menghina Al Quran dengan memelintir Surat Al Maidah Ayat 51
      Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum Ali Mukartono mengatakan, Ahok mengeluarkan perasaan yang berpotensi menyebabkan permusuhan dan melakukan penodaan agama Islam.
      Menurut Ali, 27 September 2016, Ahok selaku Gubernur DKI Jakarta mengadakan kunjungan kerja ke Pulau Pramuka, Kecamatan Pulau Seribu Selatan, Kabupaten Pulau Seribu. Ahok didampingi anggota DPRD DKI Jakarta dan sejumlah anak buahnya.
      “Pada saat kunjungan kerja tersebut, terdakwa terdaftar sebagai Cagub DKI dengan nomor urut 2. Pada kunjungan kerja yang bukan kampanye, karena dia telah terdaftar, dia dengan sengaja memberikan sambutan dengan menyebut Surat Al Maidah,” kata Ali di Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada Raya, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (13/12/2016).
      Ali melanjutkan, tujuan Ahok mengucapkan seperti itu yakni untuk meminta kepada masyarakat untuk tidak ragu memilihnya meski agamanya minoritas.
      “Terdakwa, mengatakan ‘Bapak Ibu bisa saja tak pilih saya. Jangan mau dibohongi pakai Surat Al Maidah’. Terdakwa mempersilahkan para pemilih untuk tak memilihnya,” kata Ali.
      Menurut Ali, dengan perkataan itu, Surat Al Maidah seolah-olah sudah dipergunakan orang untuk membohongi dan membodohi masyarakat.
      “Padahal, terdakwa sendirilah yang memakai surat itu sebagai alat untuk membodohi masyarakat,” ungkapnya.
      Ali mengatakan, alasan Ahok memakai Surat Al Maidah lantaranpernah diperlakukan serupa saat berada di Pilkada Belitung Timur. Saat itu, ada beberapa lawan politik Ahok yang menyebarkan surat selebaran yang berisi larangan memilih pemimpin dari Nasrani untuk menjadi pemimpin.
      “Terdakwa, memakai ayat Al Quran untuk tak dijadikan kaidah dalam memilih dirinya sebagai Gubernur DKI,” tutur Ali.
      Oleh sebab itu, Ali menyebut Ahok sudah secara sah dijerat pasal 156a tentang penistaan agama. (kriminalitas.com)

      thumbnail

      On 20.08 with No comments

      Ilustrasi
      Jakarta – Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama (Ahok) menjalani sidang perdana kasus dugaan penistaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa (13/12/2016). Dalam sidang itu, Ahok sempat membacakan nota keberatan atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Nota keberatan itu dibacakan dengan sangat serius, bahkan di tengah membacakan nota keberatan itu, Ahok yang biasanya garang tampak meneteskan air mata. Berikut isi lengkap nota keberatan Ahok:
      Bapak Ketua Majelis Hakim, dan Anggota Majelis Hakim yang saya muliakan,
      Sdr. Jaksa Penuntut Umum yang saya hormati,
      Penasihat Hukum dan Para Hadirin yang saya hormati,
      Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan yang diberikan kepada saya.
      Berkaitan dengan persoalan yang terjadi saat ini, di mana saya diajukan di hadapan sidang, jelas apa yang saya utarakan di Kepulauan Seribu bukan dimaksudkan untuk menafsirkan Surat Al-Maidah 51 apalagi berniat menista agama Islam, dan juga berniat untuk menghina para ulama. Namun ucapan itu, saya maksudkan, untuk para oknum politisi yang memanfaatkan Surat Al-Maidah 51 secara tidak benar karena tidak mau bersaing secara sehat dalam persaingan Pilkada.
      Ada pandangan yang mengatakan, bahwa hanya orang tersebut dan Tuhanlah, yang mengetahui apa yang menjadi niat pada saat orang tersebut mengatakan atau melakukan sesuatu. Dalam kesempatan ini di dalam sidang yang sangat Mulia ini, saya ingin menjelaskan apa yang menjadi niat saya pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu tersebut.
      Dalam hal ini, bisa jadi tutur bahasa saya yang bisa memberikan persepsi atau tafsiran yang tidak sesuai dengan apa yang saya niatkan, atau dengan apa yang saya maksudkan pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu.
      Majelis Hakim yang saya muliakan.
      Ijinkan saya untuk membacakan salah satu Sub-judul dari buku saya, yang berjudul “Berlindung di balik ayat suci” ditulis pada tahun 2008. Saya harap dengan membaca tulisan di buku tersebut, niat saya yang sesungguhnya bisa dipahami dengan lebih jelas, isinya sebagai berikut, saya kutip:
      Selama karir politik saya dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti Pemilu, kampanye pemilihan Bupati, bahkan sampai Gubernur, ada ayat yang sama yang saya begitu kenal digunakan untuk memecah belah rakyat, dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan ‘roh kolonialisme’.
      Ayat ini sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elit, karena tidak bisa bersaing dengan visi misi program, dan integritas pribadinya. Mereka berusaha berlindung di balik ayat-ayat suci itu, agar rakyat dengan konsep ‘seiman’ memilihnya.
      Dari oknum elit yang berlindung dibalik ayat suci agama Islam, mereka menggunakan surat Al Maidah 51. Isinya, melarang rakyat, menjadikan kaum Nasrani dan Yahudi menjadi pemimpin mereka, dengan tambahan, jangan pernah memilih kafir menjadi pemimpin. Intinya, mereka mengajak agar memilih pemimpin dari kaum yang seiman.
      Padahal, setelah saya tanyakan kepada teman-teman, ternyata ayat ini diturunkan pada saat adanya orang-orang muslim yang ingin membunuh Nabi besar Muhammad, dengan cara membuat koalisi dengan kelompok Nasrani dan Yahudi di tempat itu. Jadi, jelas, bukan dalam rangka memilih kepala pemerintahan, karena di NKRI, kepala pemerintahan, bukanlah kepala agama atau Imam kepala. Bagaimana dengan oknum elit yang berlindung, di balik ayat suci agama Kristen? Mereka menggunakan ayat disurat Galatia 6:10. Isinya, selama kita masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.
      Saya tidak tahu apa yang digunakan oknum elit di Bali yang beragama Hindu, atau yang beragama Budha. Tetapi saya berkeyakinan, intinya, pasti, jangan memilih yang beragama lain atau suku lain atau golongan lain, apalagi yang rasnya lain. Intinya, pilihlah yang seiman/sesama kita (suku, agama, ras, dan antar golongan). Mungkin, ada yang lebih kasar lagi, pilihlah yang sesama kita manusia, yang lain bukan, karena dianggap kafir, atau najis, atau binatang!
      Karena kondisi banyaknya oknum elit yang pengecut, dan tidak bisa menang dalam pesta demokrasi, dan akhirnya mengandalkan hitungan suara berdasarkan se-SARA tadi, maka betapa banyaknya sumber daya manusia dan ekonomi yang kita sia-siakan. Seorang putra terbaik bersuku Padang dan Batak Islam, tidak mungkin menjadi pemimpin di Sulawesi. Apalagi di Papua. Hal yang sama, seorang Papua, tidak mungkin menjadi pemimpin di Aceh atau Padang.
      Kondisi inilah yang memicu kita, tidak mendapatkan pemimpin yang terbaik dari yang terbaik. Melainkan kita mendapatkan yang buruk, dari yang terburuk, karena rakyat pemilih memang diarahkan, diajari, dihasut, untuk memilih yang se-SARA saja. Singkatnya, hanya memilih yang seiman (kasarnya yang sesama manusia).
      Demikian kutipan dari buku yang saya tulis tersebut.
      Majelis Hakim yang saya muliakan.
      Dalam kehidupan pribadi, saya banyak berinteraksi dengan teman-teman saya yang beragama Islam, termasuk dengan keluarga angkat saya Almarhum Haji Andi Baso Amier yang merupakan keluarga muslim yang taat.
      Selain belajar dari keluarga angkat saya, saya juga belajar dari guru-guru saya, yang taat beragama Islam dari kelas 1 SD Negeri, sampai dengan kelas 3 SMP Negeri. sehingga sejak kecil sampai saat sekarang, saya tahu harus menghormati Ayat-Ayat suci Alquran.
      Jadi saya tidak habis pikir, mengapa saya bisa dituduh sebagai penista Agama Islam.
      Saya lahir dari pasangan keluarga non-muslim, Bapak Indra Tjahaja Purnama dan Ibu Buniarti Ningsih (Tjoeng Kim Nam dan Bun Nen Caw), tetapi saya juga diangkat sebagai anak, oleh keluarga Islam asal Bugis, bernama Bapak Haji Andi Baso Amier dan Ibu Hajjah Misribu binti Acca. Ayah angkat saya, Andi Baso Amier adalah mantan Bupati Bone, tahun 1967 sampai tahun 1970, beliau adik kandung mantan Panglima ABRI, Almarhum Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Jusuf.
      Ayah saya dengan ayah angkat saya, bersumpah untuk menjadi saudara sampai akhir hayatnya.
      Kecintaan kedua orangtua angkat saya kepada saya, sangat berbekas, pada diri saya, sampai dengan hari ini.
      Bahkan uang pertama masuk kuliah S2 saya di Prasetya Mulya, dibayar oleh kakak angkat saya, Haji Analta Amir.
      Saya seperti orang yang tidak tahu berterima kasih, apabila saya tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua dan kakak angkat saya yang Islamnya sangat taat.
      Saya sangat sedih, saya dituduh menista agama Islam, karena tuduhan itu, sama saja dengan mengatakan saya menista orang tua angkat dan saudara-saudara angkat saya sendiri, yang sangat saya sayangi, dan juga sangat sayang kepada saya. Itu sebabnya ketika Ibu angkat saya meninggal, saya ikut seperti anak kandung, mengantar dan mengangkat keranda beliau, dari ambulans sampai ke pinggir liang lahat, tempat peristirahatan terakhirnya, di Taman Pemakaman umum Karet Bivak.
      Sampai sekarang, saya rutin berziarah ke makam Ibu angkat, di Karet Bivak. Bahkan saya tidak mengenakan sepatu atau sendal saat berziarah, untuk menghargai keyakinan dan tradisi orang tua dan saudara angkat saya itu.
      Yang membuat saya juga selalu mengingat almarhumah Ibu angkat saya, adalah peristiwa, pada saat saya maju, sebagai calon wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 2012.
      Pada hari pencoblosan, walaupun Ibu angkat saya, sedang sakit berat dalam perjalanan ke rumah sakit, dengan menggunakan mobil kakak angkat saya Haji Analta, ibu angkat saya, sengaja, meminta mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih saya. Padahal kondisinya sudah begitu kritis.
      Dari tempat pemungutan suara, barulah beliau langsung, menuju ke rumah sakit, untuk perawatan lebih lanjut di ICU.
      Setelah dirawat selama 6 (enam) hari, Ibu berdoa dan berkata kepada saya dan masih terus saya ingat dan masih akan saya ingat, kata beliau: “SAYA TIDAK RELA MATI, SEBELUM KAMU MENJADI GUBERNUR. ANAKKU, JADILAH GUBERNUR YANG MELAYANI RAKYAT KECIL.”
      Ternyata Tuhan mengabulkan doa Ibu angkat saya.
      Beliau berpulang tanggal 16 Oktober 2014, setelah ada kepastian Bapak Jokowi menjadi Presiden, dan saya juga sudah dipastikan menjadi Gubernur, menggantikan Bapak Jokowi. Pesan dari Ibu angkat saya selalu saya camkan , dalam menjalankan tugas saya, sebagai Gubernur DKI Jakarta.
      Majelis Hakim yang saya muliakan.
      Sebelum menjadi pejabat, secara pribadi, saya sudah sering menyumbang untuk pembangunan mesjid di Belitung Timur, dan kebiasaan ini, tetap saya teruskan saat saya menjabat sebagai Anggota DPRD Tingkat II Belitung Timur, dan kemudian sebagai Bupati Belitung Timur. Saya sudah menerapkan banyak program membangun Masjid, Mushollah dan Surau, dan bahkan merencanakan membangun Pesantren, dengan beberapa Kyai dari Jawa Timur. Saya pun menyisihkan penghasilan saya, sejak menjadi pejabat publik minimal 2,5% untuk disedekahkan yang di dalam Islam, dikenal sebagai pembayaran Zakat, termasuk menyerahkan hewan Qurban atau bantuan daging di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
      Saya juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan, termasuk untuk menggaji guru-guru mengaji, dan menghajikan Penjaga Masjid/Musholla (Marbot atau Muadzin) dan Penjaga Makam.
      Hal-hal yang telah saya lakukan di Belitung Timur, saat menjabat sebagai Bupati, saya teruskan ketika tidak menjadi Bupati lagi, sampai menjadi anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Bangka Belitung, sebagai Wakil Gubernur dan juga, sebagai Gubernur DKI Jakarta saat ini pun tetap saya lakukan.
      Ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta, saya juga membuat banyak kebijakan, diantaranya kebijakan agar di bulan Suci Ramadhan, para PNS dan honorer, bisa pulang lebih awal, dari aturan lama jam 15.00 WIB saya ubah menjadi jam 14.00 WIB, agar umat Muslim dapat berbuka puasa bersama keluarga di rumah, sholat magrib berjamaah, dan bisa tarawih bersama keluarganya.
      Saya juga ingin melihat Balaikota mempunyai Masjid yang megah untuk PNS, sehingga bisa melaksanakan ibadahnya, ketika bekerja di Balaikota. Karena itu, Pemda membangun Masjid Fatahillah di Balaikota.
      Di semua rumah susun (rusun) yang dibangun PEMDA, juga dibangun Masjid. Bahkan di Daan Mogot, salah satu rusun yang terbesar, kami telah membangun Masjid besar, dengan bangunan seluas 20.000 m2, agar mampu menampung seluruh umat muslim yang tinggal di rusun Daan Mogot. Kami jadikan masjid tersebut sebagai salah satu Masjid Raya di Jakarta.
      Kami akan terus, membangun Masjid Raya/besar, di setiap rusun, kami akan terus membantu perluasan Masjid yang ada, dengan cara PEMDA akan membeli lahan yang ada di sekitar Masjid, sebagaimana beberapa kali telah saya sampaikan dalam pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam maupun Pengurus Dewan Masjid Indonesia di Balaikota.
      Para Marbot dan penjaga makam juga PEMDA Umrohkan. Kami juga membuat kebijakan bagi PNS, menjadi pendamping Haji kloter DKI Jakarta.
      Saya berharap bisa melaksanakan amanah orang tua dan orang tua angkat saya untuk melanjutkan tugas saya sebagai Gubernur di periode yang akan datang, sehingga cita-cita saya untuk memakmurkan umat Islam di Jakarta dapat terwujud.
      Majelis Hakim yang saya muliakan.
      Saya berani mencalonkan diri sebagai Gubernur, sesuai dengan amanah yang saya terima dari almarhum Gus Dur, bahwa Gubernur itu bukan pemimpin tetapi pembantu atau pelayan masyarakat.
      Itu sebabnya, dalam pidato saya setelah pidato almarhum Gus Dur pada tahun 2007, saya juga mengatakan bahwa menjadi calon Gubernur, sebetulnya saya melamar untuk menjadi pembantu atau pelayan rakyat.
      Apalagi, saya melihat adanya fakta, bahwa ada cukup banyak partai berbasis Islam, seperti di Kalimantan Barat, Maluku Utara, dan Solo juga mendukung calon Gubernur, Bupati, Walikota non-Islam di daerahnya.
      Untuk itu, saya mohon ijin kepada Majelis Hakim, untuk memutar video Gus Dur yang meminta masyarakat memilih Ahok sebagai Gubernur saat Pilkada Bangka Belitung tahun 2007, yang berdurasi sekitar 9 (Sembilan) menit.
      Majelis Hakim yang saya muliakan.
      Saya ini hasil didikan orang tua saya, orang tua angkat saya, Ulama Islam di lingkungan saya, termasuk Ulama Besar yang sangat saya hormati, yaitu Almarhum Kyai Haji Abdurahman Wahid.
      Yang selalu berpesan, menjadi pejabat publik sejatinya adalah menjadi pelayan masyarakat. Sebagai pribadi yang tumbuh besar di lingkungan umat Islam, tidaklah mungkin saya mempunyai niat untuk melakukan penistaan Agama Islam dan menghina para Ulama, karena sama saja, saya tidak menghargai, orang-orang yang saya hormati dan saya sangat sayangi.
      Majelis Hakim yang saya muliakan.
      Apa yang saya sampaikan di atas, adalah kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi. Dan saya juga berharap penjelasan saya ini, bisa membuktikan tidak ada niat saya, untuk melakukan penistaan terhadap Umat Islam, dan penghinaan terhadap para Ulama. Atas dasar hal tersebut, bersama ini saya mohon, agar Majelis Hakim yang Mulia, dapat mempertimbangkan Nota Keberatan saya ini, dan selanjutnya memutuskan, menyatakan dakwaan Saudara Jaksa Penuntut Umum tidak dapat diterima, atau batal demi hukum. sehingga saya dapat kembali, melayani warga Jakarta dan membangun kota Jakarta.
      Majelis Hakim yang Mulia, terima kasih atas perhatiannya. Kepada Jaksa Penuntut Umum, serta Penasehat Hukum, saya juga ucapkan terima kasih.
      Jakarta, 13 Desember 2016
      Hormat saya,
      Basuki Tjahaja Purnama

      Sumber : kriminalitas.com